Tentang Saya

fotoku 

Berawal ketika duduk di bangku SMA di Temanggung, sebuah kota kecil yang cukup dingin di lereng Gunung Sumbing-Sindoro, Jawa Tengah. Keinginan itu tiba-tiba saja muncul: aku pengin jadi wartawan. Maka, semenjak itulah saya mencoba merintis jalan demi terwujudnya cita-cita tersebut. Selepas SMA, 1983, masuklah saya ke Publisistik UGM yang kemudian berubah jadi Jurusan Ilmu Komunikasi.

(Pilihan itu salah kaprah, sebab untuk jadi wartawan, tak harus lewat pendidikan formal macam itu… ternyata ya).

Pada tahun kedua (atau ketiga…) saya mulai terjun menjadi seorang jurnalis, ketika secara “untung-untungan” saya diterima menjadi reporter sekaligus penyiar Acara Universitaria dan Alam Pelajar di RRI Nusantara II Yogyakarta bersama teman seangkatan, Erwin Kurniadi (almarhum… , aku rindu suara serak-serak basahmu kawan…) dan Haeny Relawati (belakangan jadi Bupati Tuban).

Berjalan setahun di RRI, saya mulai merambah koran. Saya mulai senang menulis opini di koran Kedaulatan Rakyat. Karena tidak puas sekadar jadi penulis opini, saya nekat melamar dan diterima menjadi wartawan di sana (mudah kok prosesnya karena kebetulan salah seorang redaktur di sana adalah dosen saya, Pak Suhadi Sukarno, hehehehe ber-KKN-lah begitu…).

Gara-gara seneng mendapat uang dari menulis, saya terlambat mengerjakan skripsi. Baru tahun 1989 saya lulus (itupun setelah ada dorongan moral dari Ardiastuty, seorang wanita yang saya cintai, yang kini menjadi ibu dari tiga anak-anak saya.

Selepas dari UGM, karena dorongan orang tua, saya pun melamar ke Unair Surabaya sebagai dosen. Segala persyaratan terpenuhi, kemudian mengikuti pra-jabatan, diterima dan mendapat panggilan dari BAKN. Eh, saya malah “melarikan diri” karena tertarik lagi untuk menekuni dunia jurnalistik. Semula saya ingin kembali ke KR. Tapi awal 1990-an itu sebagian besar teman-teman di KR sudah hengkang ke Yogya Pos (Grup Prioritas milik Surya Paloh yang kemudian menjadi Media Group).

Kebetulan ada rekrutmen wartawan di Suara Merdeka Semarang. Mendaftarlah saya ke sana. Masuk. Dan mulailah kehidupan saya sebagai seorang jurnalis. Selama enam tahun berikutnya saya bergabung dengan media ini. Mulai dari menjadi wartawan kota, saya kemudian menjadi redaktur sejumlah desk, dan terakhir sebagai redaktur opini.

Sebagai sebuah organisasi media, Suara Merdeka saya anggap bagus. Kekeluargaan antar-karyawan di sana terasa kental sekali. Tetapi semua itu saya tinggalkan karena timbul rasa jenuh ketika saya sadari bahwa jabatan redaktur sebenarnya adalah jabatan “manajer”. Kalau boleh memilih, maka saya ingin menjadi seorang jurnalis di lapangan. Kejenuhan itu mendorong saya untuk keluar dari Suara Mereka yang sesungguhnya (sampai saat ini) saya rasakan sebagai sebuah “rumah-kantor”, sebuah kantor yang memberikan perasaan adhem dan ayem bak rumah sendiri.

Sekeluar dari SM (tahun 1996), saya mencoba menggeluti usaha concrete industry (pembuatan paving block, batako, buis beton, dll) kecil-kecilan. Tetapi usaha itu akhirnya saya tinggalkan karena tarikan dunia jurnalistik kembali saya rasakan. Tahun 1997, kelompok Bisnis Indonesia mendirikan koran SOLOPOS dan sedang melakukan rekrutmen untuk reporter dan redaktur. Jadilah saya masuk dan menjadi redaktur di sana; dan menjadi bagian kecil dari tim “babat alas”. Pada tahun 2000, saya didaulat untuk menjadi redaktur pelaksana. Selama tiga tahun jabatan itu saya pegang. Pada tahun 2003, SOLOPOS mendirikan anak perusahaan –Radio SOLOPOS FM. Dan saya diminta pimpinan untuk membentuk tim “babat alas”. Jadilah saya Station Manager di sana.

Selama tiga tahun berkutat di radio, saya mendapatkan banyak pelajaran dari sana. Di sana juga berkesempatan bertemu secara intensif dengan banyak orang di depan corong radio (dengan SBY juga pernah; itu lho fotonya sebagai tampilan di header blog ini).

Rutinitas kerja saya gunakan untuk mempelajari berbagai aspek manajerial radio. Hingga pada akhirnya…., datang lagi kejenuhan itu. Jabatan sebagai station manager saya rasakan kemudian menjadi sebuah tugas yang menjemukan dan saya pengin lagi kembali menjadi seorang jurnalis.

Maka saya pun mulai rasan-rasan dengan bosku, Pak Danie H Soe’oed, bahwa saya pengin mengundurkan diri. “Memangnya mau kemana kamu?” Maka saya ceritakan apa yang saya rasakan sampai-sampai saya kemudian bilang, “Kalau boleh memilih Pak, sebenarnya saya pengin jadi wartawan di lapangan saja, entah itu di radio ataupun koran.” Tetapi memang, itu adalah permintaan yang mustahil terpenuhi, kecuali kalau memang ingin merusak tatanan manajemen, bahwa orang harus menurut apa yang diputuskan manajemen untuk mengerjakan fungsi apa pada posisi struktural apa.

Jadilah saya mengundurkan diri setelah diberi kesempatan sekitar 1,5 bulan oleh si bos untuk berpikir ulang.

Sekeluar dari SOLOPOS, saya bersama sejumlah kawan mendirikan lembaga informasi kerja dan pengembangan karir GriyaGawe, yang dalam kesehariannya saat ini dikomandoi oleh Mas Aji dan Mas Abu Bakar. Pada tahun pertama, GriyaGawe berkantor di Griya SOLOPOS, dan saat ini ada di Jl. Dewi Sartika No 8 Solo.

Selain itu, saya juga mendorong sejumlah teman membuka rumah makan dengan sajian khas tengkleng (seperti gule kambing tapi tanpa santan, khas Solo). Soal tengkleng, nanti ada cerita tersendiri-lah.

Dan sekarang, inilah saya, menjadi “pengamen”….. “Mengamen” kesana-kemari sambil menulis di sana-sini; menulis apa pun yang menurut saya perlu saya tulis. Hingga saat ini saya sudah “mengamen” di beberapa tempat, antara lain di Kelompok Usaha Penimo, yakni sebuah industri sandang dan jaringan pemasaran busana muslim, yang berpusat di Wedi, Klaten, sebagai konsultan manajemen/pemasaran. Karena pemilik usaha Penimo juga ingin membuat radio, maka saya juga diminta untuk melukan studi kelayakan usaha dan membuatkan laporan studi kelayakan untuk keperluan pengajuan izin penyelenggaraan penyiaran (IPP).

Pada saat yang sama, saya juga menyelesaikan studi kelayakan untuk radio MTA FM Solo, SOLOPOS FM (mengamen kok di radio yang tadinya saya pimpin ya, hehehe…), serta menjadi konsultan SDM dan marketing untuk Karavan FM dan Jimbaran FM (juga di Solo).

Saat ini saya sedang mengerjakan order pembuatan studi kelayakan dari beberapa radio swasta, radio komunitas dan juga radio publik. Apa saja? Nantilah saya ceritakan, kalau sudah selesai pekerjaannya. Nah, barangkali ada yang pengin menggunakan jasa profesional pengamen ini. Silakan saja kontak saya (hehehe, promosi kan wajib ya?).

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: